Berita Media



Laporan Investigasi Praktik Illegal Logging di Kawasan Hutan Harapan:
Cemas Dikepung  20 Pompong dan Ketek 

Tribun Jambi - Kamis, 26 April 2012 09:41 WIB
Laporan Wartawan Tribun Jambi

Pekan lalu Tribun berkesempatan menelusuri kawasan Sungai Lalan, Desa Bayung, Kabupaten Batanghari untuk melihat langsung kondisi kayu sitaan Dishut Provinsi Jambi yang jumlahnya terus menyusut karena hilang. Berikut cerita di balik perjalanan itu.

TEROR pertama yang kami hadapi tatapan tak bersahabat dari puluhan pemilik mata di sepanjang Sungai Lalan, Desa Bayung, ketika kami menghulu sungai.

 Saya bersama dua rekan media lainnya, berencana menuju Sungai Jerat di kawasan hutan restorasi yang pernah dikunjungi Pangeran Charles beberapa tahun silam. Hanya selang sepuluh menit di atas speedboat, ponsel milik Pak Rustam (42), pemilik speedboat sekaligus pemandu kami, berdering. Inilah teror kedua yang kami hadapi. "Halo. Sayo lagi bawa orang, carteran..ndak, dak apo-apo, cuma nak ningok jalur batu bara," ucap Rustam menjawab panggilan dari seberang ponselnya.

 Memang kami bisa leluasa menyusuri Sungai Lalan, dengan alasan mensurvei, untuk memastikan apakah jalur sungai bisa dilalui ponton pengangkut batu bara.

 Meski kami bisa meyakinkan Rustam, namun tidak bagi warga di sekitar bantaran sungai. Terlebih, mereka menyaksikan kilatan kamera yang dibidikkan ke arah rakit kayu dan sawmil liar di sepanjang sungai Lalan.

 Pastinya, lebih dari lima kali, warga Desa Bayung ini harus menghentikan laju speedboat, karena menerima telepon yang masuk. Semuanya menanyakan apa tujuan orang yang menumpang boat-nya menelusuri sungai.

 Sekitar lima menit di perairan Sungai Lalan, kendaraan kami terpaksa berhenti, ketika beberapa pompong mendekat. Sekitar dua puluh pompong dan ketek mengepung speed boat yang kami tumpangi. Menyadari ada gelagat tak baik, saya dan rekan-rekan pun langsung menyembunyikan kamera dan kamera video. Betul saja, mereka menanyakan tujuan, dan maksud mengambil foto.
 Tak pelak, saya dan dua rekan lainnya cemas, apalagi dari puluhan warga yang datang itu, di antaranya terlihat senjata tajam yang terselip di pinggang, dan membawa kecepek. Ini benar-benar teror. Saya berusaha menyembunyikan kecemasan. Dengan sedikit keberanian, tersenyum dan menyapa warga yang datang. 

 Bernada tinggi, dan menghardik, satu di antara warga itu langsung menuding bahwa kami adalah rombongan wartawan. "Apo maksud kalian foto-foto kayu dan sawmil ko? Kalian pasti wartawan," sergah lelaki paruh baya bertelanjang dada itu. Bahkan ada suara yang meneriakkan untuk memeriksa tas bawaan kami.

 Ketegangan itu akhirnya diselesaikan oleh Rustam, sang operator speedboat. Ia meyakinkan puluhan warga setempat, yang diduga pelaku pembalakan liar. "Orang ini survei batu bara, nak nengok sungai ko, apo bisa dilalui ponton. Mereka mau ke Bayat Ulu," kata Rustam.

 Perjalanan pun dilanjutkan, setelah Rustam berhasil meyakinkan warga Bayat Ilir itu. Kecemasan pun hilang seiring hilangnya perkampungan itu ketika menyusuri alur sungai yang menikung. Kami kembali mengeluarkan kamera, meski menyadari risiko serupa yang bakal dihadapi.

 Di sepanjang Sungai Lalan, kami menemukan ratusan rakit kayu, Masing-masing rakit memiliki panjang tak kurang dari 50 hingga 100 meter. Badan sungai yang lebarnya antara 70 hingga 100 meter itu menyempit, karena rakit kayu itu memenuhi badan sungai di kedua sisinya.

 Untuk mengetahui informasi lebih jauh, saya belum berani bertanya kepada Pak Rustam. Tunggu waktu yang tepat, batinku. 1,5 jam menghulu sungai, di hadapan kami membentang jembatan semi permanen yang berlokasi di Desa Bayat Ulu.

 Ini kesempatannya untuk menggali informasi, pikirku. "Aduh...bagaimana ini. Kata bapak, di Bayat Ulu dak ado jembatan. Kalau macam ini, cak mano ponton nak lewat," tanyaku ke operator speedboat membuka pertanyaan.

 Bagaikan sudah terskenario, dua rekan saya pun 'menyerang' Rustam dengan berbagai pertanyaan. Waktu di darat, warga Bayung ini meyakinkan ponton pengangkut batu bara bisa melewati sungai Lalan. "Wah, kalau seperti ini, sia-sia saja perjalanan kita ke sini. Pastinya batu bara tidak bisa lewat sini," kata seorang rekan saya.

 Entah siapa yang memulai, pembicaraan selanjutnya, kami menanyai Rustam perihal rakit kayu di sepanjang sungai itu. Sedikit demi sedikit terkuaklah informasi bahwa sebagian kayu- kayu itu akan dijual kepada perusahaan besar di Jambi.

 "Warga jual kayu itu ke sawmil, kemudian sawmil jual ke perusahaan (menyebutkan satu nama perusahaan-red). Nanti dipilih, kayu yang bagus dibawa ke Jakarta, kayu yang buruk untuk bubur kertas," kata Rustam.

 Dari batu bara, fokus kini beralih ke kayu. Rustam menyebutkan selain kayu campuran, bisa juga didapatkan kayu berkualitas bagus, di antaranya Meranti, Punak dan Merbau. "Kayu-kayu itu diambil dari hutan di hulu sano. Sekitar tigo jam lagi lah," ucapnya.

 Dari Bayat Ulu, kami berbalik menghilir sungai. Perjalanan kali ini rasa cemas berangsur hilang. Bahkan kami lebih leluasa mengambil gambar rakit kayu dan sawmil. Sedikitnya, 35 sawmil kami lihat beroperasi di sepanjang sungai Lalan.

Informasi yang diperoleh Tribun selama perjalanan, dapat dipastikan ada pembalakan kayu yang dilakoni warga setempat sudah terorganisir.

 Masyarakat pembalak kayu itu mendapat dukungan dari perusahaan besar, bahkan disinyalir juga dibeking oleh oknum aparat keamanan.

 Betapa tidak, kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri, enam unit tronton intercooler parkir di bawah jembatan di Desa Bayung. Terlihat beberapa orang sedang memuat kayu olahan berbentuk balok ke truk tersebut. Keterangan dari warga setempat, kayu itu akan dibawa ke Jakarta.

 Jembatan itu persis di sebelah Pasar Desa Bayung, dan hanya beberapa ratus meter dari situ, ada kantor kepolisian sektor setempat. Setelah memastikan bahwa sungai Lalan adalah jalur keluarnya kayu dari kawasan hutan restorasi. Perjalanan selanjutnya, kami menuju kawasan hutan restorasi di Kabupaten Batanghari, melalui jalur Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi.(tim)

Sumber : Tribun Jambi
---------------------------------------------------------------------------------------------------


700 Hektare Hutan (Harapan) Hilang

Tribun Jambi - Rabu, 25 April 2012 09:30 WIB

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sejak tiga bulan terakhir ini, kawasan hutan restorasi yang dikelola Restorasi Ekosistem Konservasi Indonesia (REKI), seluas 700 hektare digerogoti perambah hutan.
Rata-rata setiap bulannya, seluas 232 hektare luas hutan di kawasan hutan restorasi itu hilang. Saat ini diperkirakan terjadi aktivitas pembukaan lahan yang ditaksir sudah mendekati ke angka 16.669 hektare, atau seluas 16,9 % dari total areal konsesi REKI.

Aktivitas pembukaan lahan terus berlangsung, bahkan cenderung sudah tidak peduli, dan tidak takut dengan petugas pengamanan yang melakukan kegiatan di lapangan.

Informasi ini diungkapkan oleh Chief Technical Adviser  REKI, Kim Worm Sorensen, Minggu (23/4) kepada Tribun. Worm yang didampingi Kabid Penanaman  REKI, Urip Wiharjo mengatakan, laju pembukaan hutan akibat dari perambahan dalam tiga bulan terakhir seluas lebih kurang 700 hektare, atau rata-rata 232 hektare per bulan.

Dalam melakukan aktivitasnya, sikap menantang dan melawan selalu ditunjukkan kelompok perambah. Belum lagi kegiatan penebangan liar yang terjadi dan ditemukan.

Berdasarkan penelusuran Tribun, Jumat dan Sabtu (21-22/4), para perambah membuka perkebunan di dalam kawasan restorasi. Mayoritas warga di sana menanami sawit, karet dan cokelat. Tak hanya perkebunan, mereka juga membangun kompleks perumahan dan sarana ibadah. Bahkan di sebagian lokasi, perambah sudah memasang antena parabola dengan sumber energi diesel.

"Kerugian akibat aktivitas perambahan seluas 16.669 hektare diperkirakan mencapai 1.968.609 meter kubik untuk tingkat pohon saja. Jika dihitung secara keseluruhan dari tingkat semai sampai pohon mencapai 1.970.542 m3," kata Urip.

Kerugian tersebut belum dihitung atas kehilangan unsur hara yang terbakar dan hanyut oleh aliran air, matinya mikroorganisme penting tanah, hilangnya daya simpan air akibat tidak adanya pohon yang menahan air tanah. "Kerugian ‑ kerugian lain tersebut selama ini masih terabaikan dari hilangnya fungsi dan tutupan hutan," katanya.

Kayu yang dirambah dari kawasan hutan restorasi, dibawa memanfaatkan alur Sungai Jerat Kabupaten Batanghari, hingga memasuki perairan Sungai Lalan di Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan.

Hingga Minggu (23/4), kayu sitaan Dinas Kehutanan Kabupaten Batanghari yang tersisa sekitar 200-an meter kubik, baik berbentuk kayu gelondongan maupun kayu olahan. Berdasarkan investigasi Tribun, kayu-kayu tersebut ditemukan di sepanjang sungai Jerat yang melintasi kawasan hutan.

Menurut Febrian, seorang petugas pengamanan  REKI, jika tidak ada tindakan cepat dari pemerintah, dikhawatirkan kayu-kayu tersebut akan hanyut ketika debit air sungai naik. "Inilah yang ditunggu-tunggu perambah. Mereka memanfaatkan air sungai untuk membawa kayu-kayu ini keluar," tutur Febrian.
Sejak kayu tersebut ditemukan dua pekan yang lalu, posisi kayu sudah bergeser ke hilir sungai sejauh beberapa ratus meter, karena terseret air. Selain itu, juga masih ditemukan kayu gelondongan dan olahan di darat, tak jauh dari sungai.

Berdasar investigasi Tribun, kayu yang berasal dari kawasan restorasi tersebut, akan diolah di sawmil yang tersebar di sepanjang bantaran Sungai Lalan. Sedikitnya 35 sawmil beroperasi di kawasan tersebut.
Dari keterangan warga Bayung, Rustam (42), praktik jual beli kayu di daerah setempat sudah berlangsung lama. Ia mengakui kayu berasal dari hutan yang berada di hulu sungai. "Kayu itu dari hutan sano, sekitar tigo kilo meter dari Bayat Ulu," kata Rustam,  Jumat (21/4). Telunjuknya mengarah ke hulu sungai.
Katanya, selain masyarakat, perusahaan besar juga berperan di bisnis kayu tersebut. "Kalau mau, temui Soleh tadi. Lewat dio, biso ketemu dengan Juned, dio tu orang WKS yang ngurus sawmil disiko," kata Rustam. 

Humas PT WKS, Ediyanto secara tegas membantah informasi tersebut. Dikonfirmasi Tribun via ponsel, Selasa (24/4), Ediyanto mengatakan, pihaknya tidak pernah memiliki sawmil.
"Kami bukan perusahaan plywood, jadi tidak pernah memiliki sawmill. Informasi itu tidak benar. Saya tegaskan, pada prinsipnya, kami tidak memiliki sawmil," kata Edi.

Menurut Edi, kemungkinan yang dimaksud warga adalah aktivitas PT Rimba Hutani Mas (RHM), karena perusahaan milik Sinar Mas tersebut memiliki kawasan di daerah tersebut. "Sebaiknya konfirmasi langsung ke pihak RHM. Nanti saya kirimkan nomornya, untuk lebih jelasnya," tukasnya.

Sayangnya, nomor ponsel milik Imam, Humas PT RHM tidak bisa dihubungi, karena nomor tersebut tidak lagi aktif. (men)
-----------------------------------------------------------------------------------

Pembalak di Jambi Pesta Kayu (Hutan Harapan)
Tribun Jambi - Selasa, 24 April 2012 07:45 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAMBI - Aksi pembalakan liar yang terjadi di kawasan Restorasi Ekosistem Konservasi Indonesia (REKI) semakin mengkhawatirkan. Hal ini dibuktikan dengan penemuan ribuan meter kubik kayu gelondongan dan bentuk balok oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jambi belum lama ini.

Namun, lebih dari 1.500 kayu sitaan itu, kini raib dicuri pelaku pembalakan liar. Berdasarkan investigasi Tribun sejak Jumat (20/4/2012), kayu jenis rimba campuran yang disita di dalam kawasan  REKI, tepatnya berada di alur sungai Jerat, kini paling banyak menyisakan sekitar 200 meter kubik saja.

Para pelaku pencurian sekaligus pembalak di kawasan itu leluasa mengambil kayu, yang sebagian besar jenis Meranti dengan diameter 30-100 sentimeter, dan panjang 6-8 meter. Maraknya pencurian disebabkan keterbatasan jumlah petugas polisi hutan Dinas Kehutanan, Satuan Polisi Reaksi Cepat (SPORC) setempat, dan petugas keamanan perusahaan.

"Petugas memang tak berdaya dan tak mampu melakukan pengamanan dengan baik, karena kalah jumlah dengan para pembalak dan perambah yang jumlahnya ratusan orang," kata Kim Worm Sorensen, Chief Technical Adviser  REKI kepada Tribun, Minggu, (22/4/2012).

Worm bertugas mengelola Hutan Harapan, yang merupakan restorasi satu-satunya di dunia ini sejak setahun lalu. Menurutnya aksi pembalakan liar dan perambahan di kawasan ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu, tapi puncaknya berlangsung sejak Juni 2011.

"Akibat tindakan ini, saya rasa tidak lama lagi hutan seluas 101 ribu hektare bekas pengelolaan PT Asiolog ini, akan tinggal kenangan. Begitu pula ratusan jenis flora dan fauna khusus, serta tidak ada di kawasan hutan mana pun di dunia, yang ada akan turut punah," ujarnya.

Menurut Worm, pihaknya sangat berharap bantuan pemerintah, baik pusat maupun daerah untuk dapat membantu memberikan pengamanan secara maksimal, karena hutan ini bukan semata milik  REKI, tapi demi kehidupan masyarakat dunia.

Kayu hasil pembalakan liar ini dibawa dari kawasan Sungai Jerat menuju Sungai Lalan di Kecamatan Bayunglincir, Kabupaten Musibanyuasin, Sumatera Selatan. Berdasar penyusuran Tribun, menggunakan speed boad di sepanjang Sungai Lalan, sekitar perjalanan empat jam dari Desa Lahat ke hulu menuju Desa Bayat Ulu, ribuan batang kayu gelondongan sudah berbentuk rakit, siap untuk ditampung para cukong dan diolah. Sekurangnya 35 unit sawmill liar beroperasi di pinggir sepanjang sungai Lalan itu.

Rustam (42) warga Desa Bayung, Kecamatan Bayunglincir, mengemukakan, kayu-kayu itu berasal dari kawasan hutan yang ada di perbatasan antara Provinsi Jambi dengan Provinsi Sumatera Selatan.
"Kayu itu diambil masyarakat beberapa desa di daerah ini, lalu dijual ke penampung atau para pemilik sawmill di daerahnya. Sebagian kayu berkelas, seperti jenis Meranti, Merbau, Punak dan lainnya diolah lalu dibawa ke Jakarta," ujarnya.

Berdasarkan pengamatan, selang waktu satu jam saja, sedikitnya enam truk interkuler semuanya bernomor polisi dari daerah DKI Jakarta, membawa kayu hasil olahan dari pinggir jalan lintas Sumatera (Jambi - Palembang), tepatnya di tengah kota Bayunglincir diangkat dari Sungai Lalan, secara leluasa.
Ajun Komisaris Besar Polisi, Toto Wibowo, Kepala Polisi Resor Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, ketika dikonfirmasi, Minggu, (22/4/2012), mengakui banyaknya menemui kayu hasil pembalakan liar dari kawasan perbatasan Jambi-Sumatera Selatan, yang dikeluarkan melalui Bayunglincir.

"Kami sudah mengetahui itu, dan bahkan kami dengan petugas gabungan lainnya, yakni dari anggota TNI dan Dinas kehutanan daerah ini telah melakukan inspeksi mendadak sekaligus telah menutup akses jalur kayu di Sungai Merang untuk menghentikan kegiatan pembalakan liar itu. Saya akan operasi lagi jika memang benar informasi Tribun, kegiatan serupa hingga kini masih saja berlangsung," kata Toto.

Seperti pernah diberitakan sebelumnya, pekan lalu para perambah dan pelaku pembalakan liar di kawasan hutan yang dikelola PT REKI, menyandera dua petugas keamanan perusahaan dan seorang anggota Polres Batanghari.

Penyanderaan ketiga petugas ini dilakukan warga yang menamakan diri dari anggota Serikat Petani Indonesia (SPI) Ranting Baharselatan, Minggu, (15/4/2012).

"Kami mengetahui dua anggota kami dan seorang polisi disandera. Setelah 200 orang mengaku anggota SPI dan memberikan surat meminta pimpinan REKI, enam orang anggota mereka yang sudah ditahan polisi hutan Dinas Kehutanan Provinsi Jambi dilepas, dan dua orang kami sandera sebagai jaminan," kata Yusup Cahyadin, Direktur Operasional REKI, Senin, (16/4/2012) lalu

-----------------------------------------------------------------------------------

Ribuan Meter Kubik Kayu Sitaan Raib
Senin, 23 April 2012, Koran Tempo

JAMBI - Lebih dari 1.500 meter kubik kayu dalam bentuk gelondongan dan balok
hasil sitaan Dinas Kehutanan Provinsi Jambi sebulan lalu, di kawasan hutan
yang dikelola  Restorasi Ekosistem Konservasi Indonesia (REKI), kini raib.
"Jumlah petugas yang melakukan pengamanan terbatas," kata Kepala Seksi
Penyelidikan dan Pengamanan Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Jambi A. Bestari
kepada Tempo kemarin.

Berdasarkan investigasi Tempo selama dua hari pada pekan lalu, para pelaku
pencurian yang juga pembalak liar itu bisa dengan leluasa mengambil kayu
yang sebagian besar jenis Meranti dengan diameter 30-100 sentimeter dan
panjang hingga 6-8 meter. Kayu kemudian dibawa dari kawasan Sungai Jerat
menuju Sungai Lalan di Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin,
Sumatera Selatan.

Di sepanjang Sungai Lalan, dari Desa Lahat ke hulu menuju Desa Bayatulu,
terdapat ribuan batang curian yang sudah berbentuk rakit dan siap ditampung
para cukong. Setidaknya, sebanyak 35 unit sawmill liar beroperasi di
sepanjang tepian sungai untuk mengolah kayu. "Kayu jenis Meranti, Merbau,
Punak, dan lainnya yang diambil dari kawasan hutan di perbatasan Provinsi
Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan itu diolah lalu dibawa ke Jakarta," ujar
Rustam, 42 tahun, salah seorang warga Desa Bayung, Kecamatan Bayung Lincir.
Yang dikatakan Rustam benar. Hanya berselang satu jam, sedikitnya, enam truk
interkuler bernomor polisi Jakarta mengangkut kayu-kayu tersebut.

Kepala Kepolisian Resor Musi Banyuasin Ajun Komisaris Besar Toto Wibowo
menjelaskan pihaknya telah berkali-kali melakukan operasi gabungan bersama
Dinas Kehutanan dan Tentara Nasional Indonesia untuk menghalau aktivitas
para pembalak liar. Akses jalan menuju sungai tempat penyimpanan kayu pun
ditutup. "Kami akan kembali melakukan operasi jika benar masih ada pencurian
ataupun pembalakan liar," ujarnya kepada Tempo.

Chief Technical Adviser REKI Kim Worm Sorensen mengatakan upaya
mewujudkan Hutan Harapan melalui restorasi satu-satunya di dunia itu tidak
akan ada artinya jika perambahan dan pembalakan liar yang telah berlangsung
bertahun-tahun tak diatasi. "Akibat pembalakan liar, ratusan ribu hektare
hutan beserta ratusan jenis flora dan fauna akan tinggal kenangan," katanya.


------------------------------------------------------------------------------------


SPI Akui Sandera Tim Patroli Hutan Harapan

Irma Tambunan | Agus Mulyadi | Rabu, 18 April 2012 | 17:25 WIB

JAMBI, KOMPAS.com — Serikat Petani Indonesia Jambi mengakui telah menyandera dua petugas patroli Hutan Harapan di Batanghari, Jambi, Minggu (15/4/2012).
Penyanderaan dilakukan sebagai kekecewaan atas tertangkapnya enam warga Serikat Petani Indonesia (SPI) yang tengah membuka kebun di kawasan tersebut.
Sekitar 200 warga perambah kelompok SPI mendatangi kamp  Restorasi Indonesia (Reki) selaku pengelola Hutan Harapan, hari Minggu lalu. Dalam aksi tersebut, massa membawa lari dua anggota patroli hutan, Nur Isroni dan Febrian. Keduanya baru dilepaskan esoknya di perbatasan Hutan Harapan dan kawasan PT Perkebunan Negara VI Unit 22.
Koordinator SPI Jambi Sarwadi membenarkan, massa SPI menyandera dua anggota patroli Hutan Harapan. Hal itu dilakukan karena mengetahui enam anggota SPI ditangkap petugas saat berada di dalam kawasan itu.
"Kami diliputi kebingungan dibawa ke mana enam warga kami sehingga massa langsung mendatangi kamp PT Reki untuk meminta kejelasan," ujarnya, Rabu.
Pihaknya menolak disebut-sebut sebagai perambah hutan. Menurut Sarwadi, masyarakat petani telah menggarap kawasan itu sejak pengelola hutan terdahulu, PT Asialog, melepaskan izin hak pemanfaatan hutan.
"Kalaupun ada penebangan tanaman, itu lebih untuk tujuan pembukaan kebun. Kami kan petani, yang kerjanya menggarap lahan untuk hidup. Namun, tidak benar kalau kami membalak liar," ujarnya.
Kepala Seksi Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan Jambi Bestari mengatakan, para perambah diduga kesal atas terungkapnya ribuan kayu hasil pembalakan liar oleh aparat. Penebangan kayu hingga kini terus berlangsung.
Pada Sabtu lalu, tim gabungan dari Dinas Kehutanan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi menahan enam pelaku penebangan pohon di hutan itu. Penangkapan tersebut kian menyulut kemarahan para perambah sehingga mereka menyandera anggota tim patroli.
-------------------------------------------------------------------------------------

Pelaku Illegal Logging Sandera 2 Petugas Restorasi Hutan Jambi

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Senin, 16/04/2012 18:56 WIB

Pekanbaru Pelaku perambah hutan nekat menyandera dua petugas restorasi hutan di Jambi. Tidak hanya itu, mereka juga menyandera satu anggota polisi.

"Dua petugas restorasi ini merupakan petugas di kawasan Hutan Harapan eks HPH. Restorasi ini merupakan keputusan dari Menhut untuk menyelamatkan kawasan hutan yang tersisa. Tapi saat melakukan tugas, mereka justru ditangkap dan disandera massa yang selama ini dengan bebas merambah kawasan hutan," demikian disampaikan, Head of Public Affair, Hutan Harapan, Surya Kusuma kepada detikcom, Senin (16/4/2012).

Surya menjelaskan, penyanderaan berlangsung di kawasan Hutan Harapan, Batanghari, Jambi, Minggu (15/4/2012). Sekitar 200 orang kelompok penjarah hutan bersenjata tajam yang mengatasnamakan organisasi Serikat Petani Indonesia (SPI) mendatangi pos jaga dan menyandera dua orang petugas Perlindungan Hutan (Linhut) Hutan Harapan, Nur Isroni dan Febrian.

"Turut dibawa bersama mereka seorang petugas polisi bernama Andi Anggara. Keduanya baru dibebaskan sekitar pukul 12.30 WIB hari ini. Sementara 2 orang staf lainnya yang bernama Bontar dan Supriyadi, yang hilang dalam hutan saat menghindari penyerbuan massa juga berhasil ditemukan," kata Surya

Masih menurut Surya, penyanderaan kepada petugas restorasi hutan ini, merupakan imbas dari tertangkapnya 6 orang anggota SPI. Mereka tertangkap tangan Polhut Jambi saat melakukan ilegal logging. Sehingga sasaran massa adalah petugas restorasi yang ada di dalam kawasan hutan tersebut. Hanya saja belakangan Polhut Jambi membebaskan 6 pelaku ilegal logging tersebut.

"Saat ini, petugas kita memang sudah dibebaskan. Namun mereka mengancam akan membawa massa lebih besar ke kantor pengelola Hutan Harapan, Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI), pada Rabu pekan ini. Ancaman untuk bertindak anarki ini salah alamat, karena seharusnya protes mereka ditujukan ke Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, bukan justru meneror pengelola Hutan Harapan yang tidak punya kewenangan untuk menangkap penjarah hutan," kata Surya.

Sementara itu, Yusup Cahyadin, Direktur Operasional pengelola Hutan Harapan, tetap menyesalkan pelepasan ke-6 orang yang ditahan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, tersebut. Apalagi, pelepasan mereka tidak dikaitkan dengan pembebasan 2 orang staf Hutan Harapan yang disandera massa SPI di dalam hutan.

Sekadar diketahui, Hutan Harapan adalah eks kawasan pengusahaan Hutan Produksi yang kini sudah dialihkan kepada Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) untuk dikelola dan dipulihkan kembali ekosistemnya.

Izin pengelolaan Hutan Harapan ini berdasarkan SK Menhut No 293/Menhut-II/2007:28 Agustus 2007 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 52.170 ha di Provinsi Sumatera Selatan. SK Menhut No 327/Menhut-II/2010 25 Mei 2010 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 46.385 ha di Provinsi Jambi.

(cha/try)




--------------------------------------------------------------------------------------


PERAMBAHAN HUTAN

"Ngaku" Miskin, Punya Lahan 100 Hektar

Kompas, Senin, 16 April 2012 | 01:59 WIB

Indra Purnomo (30) heran menyaksikan kedatangan sekitar 100 warga dari Kabupaten Kerinci, dua pekan lalu. Rombongan itu membawa kapak dan parang, bermaksud menebang pepohonan dan menebas semak di salah satu lokasi Hutan Restorasi Harapan, Kabupaten Batanghari, Jambi. Tujuannya untuk membuka hutan itu menjadi kebun sawit.
Ia pun mendekat guna menghentikan aktivitas mereka. Indra bertanya, mengapa mereka berani merambah hutan, padahal kawasan ini sudah punya pengelola, yaitu  Restorasi Ekosistem.
Salah seorang warga mengaku tidak tahu kawasan itu adalah hutan negara. Mereka memutuskan datang ke hamparan lahan itu setelah memperoleh informasi dari sebuah tabloid lokal di Kota Jambi yang memberitakan adanya tawaran bagi-bagi lahan untuk pembukaan kebun sawit. Lokasinya di dalam Hutan Restorasi Harapan tersebut. Siapa pun pasti tergiur mendapat lahan gratis. Atas dasar itulah mereka tertarik dan langsung menuju hutan yang dimaksud. ”Kami diberi tahu, kalau datang ke sini, bakal dapat lahan gratis, cukup membawa perlengkapan,” ujar perambah itu.
Ketika Indra meminta mereka meninggalkan lokasi, malah ditolak. Indra kemudian menjelaskan bahwa tidak pernah ada tawaran lahan gratis di dalam hutan itu. Kenyataannya, di hutan itu tidak ada penebangan tanaman keras, sampai kondisi hutan pulih sebagaimana layaknya hutan primer. Jika tetap berkeras, para pendatang ini akan tersangkut hukum. Mereka pun akhirnya pulang. ”Ini hutan negara, bukan untuk dirambah,” tutur Indra.
Kedatangan perambah secara massal ke hutan itu bukan pertama kalinya. Sepekan sebelumnya, Hutan Restorasi Harapan juga kedatangan sekitar 20 orang berkendara sepeda motor, bermaksud menebangi kayu untuk dijual, lalu membuka hutannya menjadi kebun.
Karena itulah tim patroli dalam Hutan Restorasi Harapan mesti rajin patroli ke penjuru hutan seluas total 101.000 hektar yang mencakup wilayah Jambi dan Sumatera Selatan itu. Jika tidak, pembalakan dan perambahan semakin menjadi-jadi.
Deputi Patroli Hutan Restorasi Harapan Kasadi mengeluh betapa sulitnya menjaga hutan dari ancaman aktivitas ilegal. Dia bercerita, tim baru saja berhasil menggagalkan perambahan liar di sejumlah lokasi, tiba-tiba kembali dihadapkan pada aktivitas pembalakan skala besar di Sungai Jerat di kawasan hutan tersebut. Sekitar 2.000 kayu bulat dan olahan curian ditemukan tertahan di sungai, dicurigai bakal dialirkan ke hilir sungai yang merupakan lokasi industri pengolahan kayu. Pelakunya belum tertangkap tangan, tetapi diduga adalah kelompok terorganisasi yang biasa melakukan praktik pemanfaatan hutan secara ilegal. ”Kami benar-benar dibikin kewalahan,” ujar Kasadi.
Tidak miskin
Menurut Direktur Restorasi Ekosistem (pengelola Hutan Restorasi Harapan) Yusuf Cahyadin, perambahan di hutan tersebut terus meluas. Perambahan pada 2011 hampir mencapai 15.000 hektar, kini bertambah lagi menjadi 16.200 hektar.
Hasil pendataan sementara di lima titik besar perambahan hutan itu mencengangkan. Lebih dari 60 persen perambah ternyata memiliki lahan 25 hektar hingga lebih dari 100 hektar per orang. Kepemilikan lahan itu dengan cara membeli minimal Rp 1 juta per hektar. ”Mengaku miskin, punya lahan 100 hektar. Dari mana uangnya untuk beli lahan dan kebun sawit seluas itu kalau bukan pemodal besar,” ujar Yusuf.
Pendataan itu setidaknya telah mementahkan anggapan bahwa perambahan hutan identik dengan kemiskinan. Menurut Yusuf, perambah miskin memang ada, tetapi hanya sebagian kecil.
Aktivitas ilegal dalam hutan tersebut justru didominasi pemodal besar. Perambahan berlangsung secara terorganisasi. Modusnya berawal dengan memobilisasi sekelompok besar warga di satu wilayah untuk masuk ke hutan. Orang miskin menjadi alat untuk pencurian kayu. Selanjutnya, pemilik modal akan memperjualbelikan lahan dan membiarkan lahan terambah para pendatang. Perambahan pun meluas.
Pada satu tahap berikutnya, pemilik modal diduga mengorganisasi kelompok itu untuk menggelar rangkaian unjuk rasa ke kantor pemerintahan. Tujuannya, menyuarakan tuntutan pelepasan hutan, berdalil demi kepentingan masyarakat miskin atau komunitas adat. Upaya itu kerap dilakukan dengan berbagai bentuk tekanan.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi Tri Siswo menyebutkan, mobilisasi massa jadi tren ilegal untuk membuka hutan negara.
Kawasan hutan penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat di Kabupaten Merangin jadi contoh paling jelas soal praktik perambahan yang diorganisasi pemodal besar. Sekitar 8.000 hektar hutan negara dirambah menjadi kebun kopi. Mereka juga membangun sekolah, pasar, bahkan terminal, yang ujung- ujungnya menyulitkan aparat untuk menertibkan keberadaan mereka. (Irma Tambunan)

No comments:

Post a Comment