Saturday, July 20, 2013

Hutan Harapan Kecam Perburuan Satwa Langka



Tapir langka yang dijerat pemburu liar dan kemudian mati mengenaskan. Para pemburu ini biasanya memasang jerat untuk menangkap harimau yang punya daya jual tinggi, tapi kadang yang masuk perangkap mereka justru hewan lain yang juga dilindungi tapi tidak bernilai komersial di pasar gelap. (FOTO: RISET REKI)   

Batanghari, Jambi – Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) selaku pengelola  Hutan Harapan mengecam keras ulah segelintir orang yang terus melakukan perburuan satwa langka di dalam kawasan hutan restorasi ekosistem. Satwa terakhir yang menjadi korban jerat pemburu gelap adalah seekor tapir (tapirus indicus), yang ditemukan oleh tim Riset Hutan Harapan tapi kemudian tidak dapat diselamatkan karena kondisi tubuhnya sudah terlalu lemah.

Anggota staf Riset Hutan Harapan menemukan tapir tersebut saat sedang melakukan pengecekan camera trap di dalam kawasan hutan yang mendekati wilayah Kabupaten Sarolangun pada 24 Juni 2013.  Tapir tersebut ditemukan dalam keadaan kaki kanan depannya terjerat tali sling (kabel baja) dan sedang berjuang melepaskan diri dari jerat. Jerat diyakini dipasang pemburu gelap yang bermaksud menangkap Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae). Model jerat ini didesain secara khusus di mana hewan yang masuk jerat akan sulit melepaskan diri bahkan bisa berakibat kematian.

Tim Riset berusaha keras membantu melepaskan kawat baja dari kaki tapir tersebut. Tapir muda berjenis kelamin betina dengan berat sekitar 150 kg kemudian hanya bisa terbaring sekarat karena mengalami luka cukup parah pada bagian kaki depan. Karena kondisi lukanya, tapir tersebut kemudian menemui ajal di lokasi. Seluruh bukti dan fakta lapangan kemudian disimpan tim Riset Hutan Harapan untuk tindak lanjut dan pelaporan.

Jerat harimau terbuat dari tali baja  yang dipasang pemburu gelap.

“Kami sangat menyesalkan peristiwa ini dan mengecam keras aktifitas perburuan satwa di dalam kawasan hutan,” kata manajer Public Relations Hutan Harapan, Surya Kusuma. “Kami mengimbau agar masyarakat tidak saja turut serta menjaga kelangsungan hutan, tapi juga ekosistem yang ada di dalamnya, termasuk banyak satwa langka Sumatra yang kini sudah terancam punah.”

Populasi tapir Sumatra cenderung menuju kondisi terancam punah. Manusia menjadi faktor utama ancaman bagi kehidupan  tapir, antara lain karena kegiatan perburuan liar, perambahan dan illegal logging yang menghabisi hutan, hingga perdagangan satwa ilegal.

“Ke depan, kami akan semakin meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah jatuhnya lagi korban hewan  yang dilindungi mati sia-sia akibat jerat pemburu gelap. Kami juga mempersilakan masyarakat untuk melaporkan temuan yang mencurigakan atau melaporkan aktifitas  orang-orang tertentu terkait perburuan satwa yang dilakukan di dalam hutan,” kata Surya Kusuma.
  


PROFIL HUTAN HARAPAN (HARAPAN RAINFOREST)

Hutan Harapan adalah eks kawasan pengusahaan Hutan Produksi yang kini sudah dialihkan kepada Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) untuk dikelola dan dipulihkan kembali  ekosistemnya (restorasi). Izin pengelolaan Hutan Harapan ini berdasarkan SK Menhut No 293/Menhut-II/2007:28 Agustus 2007 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 52.170 ha di Provinsi Sumatera Selatan. SK Menhut No 327/Menhut-II/2010 25 Mei 2010 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 46.385 ha di Provinsi Jambi.

Hutan Harapan dikelola secara non-profit, kegiatannya dibantu oleh lembaga donor dan dikelola sepenuhnya oleh warga Indonesia. Program restorasi Hutan Harapan ditujukan agar hutan yang terletak di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan ini bisa dikembalikan menjadi hutan alam seperti semula. Diharapkan, Hutan Harapan akan menjadi tempat di mana suku asli bisa hidup damai di dalamnya dan memanfaatkan hasil hutan non-kayu, sambil tetap menjaga dan mempertahankan ekosistem Hutan Harapan. Kehancuran Hutan Harapan berarti kehancuran kehidupan bagi penduduk asli yaitu, Suku Bathin Sembilan, yang secara turun temurun hidup berpindah dan mencari penghidupan di dalam hutan.

Hutan Harapan adalah hutan dataran rendah terakhir yang masih tersisa di Pulau Sumatera. Program restorasi Hutan Harapan merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dan juga yang pertama di Indonesia. Bila  restorasi Hutan Harapan berhasil, maka Hutan Harapan akan menjadi model positif yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan hutan alam di Indonesia dan dunia. Keberhasilan restorasi Hutan Harapan juga sedikit banyak akan memperbaiki citra Indonesia di mata internasional, yang saat ini reputasinya dikenal sebagai salah satu negeri dengan laju kehancuran hutan tercepat  di dunia.



No comments:

Post a Comment