Sunday, February 23, 2014

An Unforgettable Trip to Harapan Rainforest





Tree climbing session deep inside Hutan Harapan. Enjoying forest canopies view  from above the tall tree.

By Stephanie Morren

I, Stephanie (with my husband Liam),  recently had the very great privilege of spending 3 days in the beautiful Harapan rainforest in Jambi and South Sumatra provinces, Sumatra, Indonesia. I have known about this project run by RSPB, Burung Indonesia and BirdLife International for many years. So when I had the opportunity to visit I jumped at the chance!

The journey to base camp from Jambi is around 3 hours along a very muddy and bumpy road. Most of this journey is through palm oil plantations which just seem to go on forever. So it was difficult to imagine what Harapan would be like. Even once we went through the gate into the forest, the rows of palm trees were still there, visible in every direction. We did gradually start to see some native forest, with tall trees and a variety of flora. We also saw a troupe of long-tailed macaques crossing the road in front of us!
Indigenous kids of Bathin IX of Hutan Harapan's school

Base camp was really impressive and there were lots of friendly people working there. After settling in to our room (with the unexpected luxury of air conditioning!) we headed out into the forest for the first time. Although this forest has been heavily exploited in the past, it was teeming with life. Birds, insects and monkeys all moving about through the trees, and the wonderful and distinctive sounds of the rainforest filled the air. As we watched various macaques, leaf monkeys, wild pigs, flying squirrels, hornbills and hawk-eagles it was easy to forget how small and vulnerable this forest really is.


Over the three days we spent a lot of time in the forest – trekking through the forest trails and taking in all the sights and sounds. Avoiding the leeches was a daily activity too! A real highlight was the climb up to the treetop platform which gave us a 360° view of the forest. As we were so deep into the forest, there was no palm oil or anything else in sight. Purely forest and it was beautiful. Another highlight was finding tracks of animals such as sun bears, tapirs and Sumatran tigers. It was amazing to think that they had passed through that very spot not long before us. During a night walk we came across a banded palm civet, which are classed as internationally vulnerable as they have declined due to habitat loss. To see any nocturnal mammal is a real treat.

Adventure inside the last tropical dry lowland rainforest in
Jambi & South Sumatra provinces, Indonesia.

We also had the pleasure of visiting the local school for the indigenous people, where we told the children about our home in England, and taught them a well-known nursery rhyme. It was fantastic to see them enjoying school and they will be the first generation of their people to go through a school education. When we asked them what they wanted to do when they grew up, answers included teacher, policeman and doctor.


There are challenges facing the team at Hutan Harapan, from deforestation because of encroachment to tiger poaching activities. And there is no doubt that this project and the future of lowland rainforest in Sumatra hangs in the balance. However, it is rare to meet such a dedicated bunch of people and if any project is going to succeed I believe it can be this one. For the sake of the climate, the people and the wildlife, let’s hope that they manage to save it, and this wonderful place continues to get better and better.

Wednesday, November 27, 2013

Ditangkap, 4 Truk Pembalak Kayu Hutan Harapan

Empat truk berhasil ditangkap berikut barang bukti 20 kubik kayu hasil pembalakan (illegal logging) dari dalam kawasan hutan restorasi Hutan Harapan di bagian Sumatera Selatan. Hanya seorang pelaku yang berhasil ditangkap, sedangkan yang lain melarikan diri dan meninggalkan truk-truk berikut barang bukti. 



Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, 13 November 2013 –  Polisi Hutan dari Dinas Kehutanan Musi Banyuasin (Muba) dan petugas patroli perlindungan Hutan Harapan berhasil memburu dan menangkap 4 unit truk bermuatan 20 kubik kayu hasil pembalakan (illegal logging) dari dalam kawasan Hutan Harapan pada Selasa  (12/11). Seorang pelaku yang mengemudikan salah satu truk berhasil diamankan, sementara para pelaku lainnya melarikan diri dan meninggalkan truk-truk dalam keadaan terkunci.  Pengemudi yang ditangkap langsung dibawa ke kantor Dinas Kehutanan Muba di Betung. Total dalam  sepekan ini, sudah ada 6 truk berikut para tersangka pembalak ditangkap berturut-turut di jalan saat hendak melarikan kayu keluar kawasan hutan. 

Jumlah tangkapan diperkirakan akan terus bertambah dalam beberapa pekan ke depan, seiring  gencarnya operasi perburuan terhadap para pembalak liar.

“Perburuan aktif terhadap para pembalak liar ini  tidak hanya melibatkan patroli perlindungan Hutan Harapan dan Dishut Muba, tapi juga tim intel Kodam Sumsel,” kata M. Nazli, kepala Departemen Perlindungan Hutan Harapan. “Hal ini menunjukkan betapa seriusnya semua pihak membantu mengamankan kawasan  Hutan Harapan dari kejahatan pembalakan liar yang sangat merugikan negara. Mulai sekarang, tidak ada lagi ampun bagi para pelaku pembalakan maupun para cukong dan pendukungnya yang terlibat di lapangan selama ini. Aparat keamanan sudah punya bukti nama-nama yang selama ini terlibat aktif dalam bisnis kayu ilegal yang sangat merusak lingkungan ini.”

Menurut Nazli, keempat unit truk sudah dipantau sejak keluar dari  desa Sako Suban,  lokasi yang menjadi area keluar masuk semua truk pengangkut kayu hasil pembalakan.  Truk-truk tersebut keluar menuju jalan umum dengan dikawal 1 unit kijang kapsul yang dikawal oleh seorang oknum aparat. Begitu tahu dibuntuti, oknum tersebut mengajak negosiasi dan mencoba menyuap tim gabungan, tapi ditolak mentah-mentah. Tim gabungan meminta agar semua truk dan barang bukti dibawa ke Pos Satgas Polhut di Betung.

“Tahu kalau negosiasi ditolak, semua truk tiba-tiba berbalik arah untuk melarikan diri kembali ke desa Sako Suban. Tim melakukan pengejaran dan berhasil mencegat mereka di jalan, tetapi semuanya lari meninggalkan truk dalam keadaan terkunci dan hanya satu pelaku yang tertangkap,” kata Nazli.

Sebelumnya, pada 8 November 2013, tim gabungan Dishut Muba dan tim patroli perlindungan hutan juga berhasil menangkap 2  unit truk berisi 5 kubik kayu bulian dan 4  pelaku terkait pembalakan liar dari dalam Hutan Harapan.

Hasil operasi terakhir ini sekaligus membuktikan bahwa kerja sama  antara institusi pemerintah, aparat keamanan dan patroli perlindungan Hutan Harapan mampu menghentikan  aksi para pelaku kejahatan kehutanan. Hal ini juga juga menunjukkan  bahwa PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) selaku pengelola hutan restorasi Hutan Harapan pantang surut menghadapi para pembalak  liar yang terus membandel.




PROFIL HUTAN HARAPAN (HARAPAN RAINFOREST

Hutan Harapan adalah eks kawasan pengusahaan Hutan Produksi yang kini sudah dialihkan kepada Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) untuk dikelola dan dipulihkan kembali  ekosistemnya (restorasi). Izin pengelolaan Hutan Harapan ini berdasarkan SK Menhut No 293/Menhut-II/2007:28 Agustus 2007 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 52.170 ha di Provinsi Sumatera Selatan. SK Menhut No 327/Menhut-II/2010 25 Mei 2010 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 46.385 ha di Provinsi Jambi.

Hutan Harapan dikelola secara non-profit, kegiatannya dibantu oleh lembaga donor dan dikelola sepenuhnya oleh warga Indonesia. Program restorasi Hutan Harapan ditujukan agar hutan yang terletak di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan ini bisa dikembalikan menjadi hutan alam seperti semula. Diharapkan, Hutan Harapan akan menjadi tempat di mana suku asli bisa hidup damai di dalamnya dan memanfaatkan hasil hutan non-kayu, sambil tetap menjaga dan mempertahankan ekosistem Hutan Harapan. Kehancuran Hutan Harapan berarti kehancuran kehidupan bagi penduduk asli yaitu, Suku Bathin Sembilan, yang secara turun temurun hidup berpindah dan mencari penghidupan di dalam hutan.

Hutan Harapan adalah hutan dataran rendah terakhir yang masih tersisa di Pulau Sumatera. Program restorasi Hutan Harapan merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dan juga yang pertama di Indonesia. Bila  restorasi Hutan Harapan berhasil, maka Hutan Harapan akan menjadi model positif yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan hutan alam di Indonesia dan dunia. Keberhasilan restorasi Hutan Harapan juga sedikit banyak akan memperbaiki citra Indonesia di mata internasional, yang saat ini reputasinya dikenal sebagai salah satu negeri dengan laju kehancuran hutan tercepat  di dunia.

* IUPHHK = Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu.


Sunday, November 10, 2013

Tim Gabungan Tangkap 2 (Dua) Unit Truk Illegal Loging di Musi Banyuasin

3 dari 4 tersangka pengangkut kayu bulian hasil illegal logging dari dalam kawasan Hutan Harapan, berikut barang bukti  berupa 2 unit  truk dan 5 kubik kayu bulian.


Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Tim Polisi Hutan Kabupaten Musi Banyuasin dengan dibantu tim patroli perlindungan hutan berhasil menangkap truk pengangkut kayu bulian hasil pembalakan (illegal logging) dari dalam kawasan hutan restorasi ekosistem Hutan Harapan (8 November). Kayu bulian ini merupakan hasil tebangan ilegal dari dalam kawasan Hutan Harapan yang berada di bagian Provinsi Sumatera Selatan.

Pada 18.30 Wib, dua unit truk pengangkut kayu hasil curian ini memasuki jalan Simpang Gas. Jalan ini rutin digunakan para pembalak untuk mengangkut kayu hasil pembalakan dari dalam Hutan Harapan. Tim gabungan Polisi Hutan Musi Banyuasin dan tim patroli Hutan Harapan langsung memberhentikan truk dan para operator di dalamnya yang berjumlah 4 orang.

Saat diberhentikan, satu truk berhasil lolos dan tim gabungan melakukan pengejaran.  Kejar-kejaran selesai setelah truk ini  berhenti dan  ditangkap di Desa Peninggalan.
Total hasil operasi illegal logging: 2 (dua) unit truk PS, 5 kubik kayu bulian dan 4 orang tersangka. Tersangka dan barang bukti kemudian dibawa menuju kantor Polisi Hutan Musi Banyuasin di Betung.


Ditangkap, Truk dan Pembalak Kayu Bulian Hutan Harapan

Temuan kayu bulian langka yang sudah diolah untuk digunakan fungsi lain atau diangkut keluar hutan  oleh kawanan perambah dari area Kunangan Jaya II. 

Batanghari, Jambi – Seorang pelaku utama yang membawa kayu hasil pembalakan (illegal logging) ditangkap dan satu unit truk berikut barang bukti 5 kubik kayu bulian langka hasil curian dari dalam Hutan Harapan berhasil disita. Pelaku tersebut ditangkap petugas Polres Batanghari dan dibantu oleh masyarakat saat mengangkut kayu hasil tebangan  (6/11). Sementara, pengawal truk yang berboncengan dengan 12 motor langsung melarikan diri. Saat ini,  pelaku sedang menjalani penyidikan di kantor Polres Batanghari, Muara Bulian. Barang bukti  berupa 1 unit truk dan muatan kayu bulian olahan  juga sudah diamankan di kantor Polres Batanghari.

Manajemen REKI selaku pengelola hutan restorasi ekosistem Hutan Harapan sangat berterima kasih atas bantuan dan kerja sama yang telah diberikan  warga masyarakat sekitar hutan. Manajemen REKI juga berterima kasih atas peran Polres Batanghari yang segera menindaklanjuti tangkapan itu dengan mengamankan pelaku serta barang bukti.

“Penangkapan ini merupakan buah dari kerja sama sinergis selama ini antara pihak kepolisian,  warga di sekitar konsesi restorasi ekosistem dan manajemen Hutan Harapan,” kata M. Nazli, Kepala Departemen Perlindungan Hutan Harapan. “Kami sudah lama mengamati aktivitas perambahan yang diiringi pembalakan di dalam Hutan Harapan. Celakanya, aparat pemerintah dusun di kawasan perambah juga terbukti terlibat dengan mengeluarkan surat ijin penebangan kayu. Para pembalak ini memang tidak pernah berhenti menebangi pohon. Kegiatan melanggar hukum di dalam area yang akan kami pulihkan jadi hutan alam kembali ini tentu harus kami hentikan.”

Sebelumnya, pada Minggu, 3 November 2013, petugas perlindungan Hutan Harapan memergoki warga perambah dari dusun Kunangan Jaya II yang selama ini diketahui telah mencaplok ratusan hektar lahan hutan di area Sungai Kandang. Mereka terpantau sedang menebang pohon dan mengolah kayu bulian hasil tebangan ilegal. Di lokasi juga ditemukan barang bukti berupa tumpukan kayu bulian yang sudah diolah menjadi berbagai ukuran. Para pelaku menantang dan sekaligus menunjukkan selembar surat ijin dari kepala dusun Kunangan Jaya II atas nama: M. Khasan Nandif. Di dalam surat itu  tertera persetujuan dari beberapa ketua RT setempat. Bukti itu menunjukkan bagaimana aparat dusun dan jajarannya terlibat aktif dengan melegalkan kegiatan pembalakan di dalam hutan restorasi.

“Apa yang mereka lakukan ini sama saja dengan merusak program Kementerian Kehutanan yang sudah mencanangkan  program mulia untuk masa depan,  yakni penanaman satu miliar pohon,” kata Surya Kusuma, PR & Communication Manager Hutan Harapan. “Kami mendukung penuh upaya pemerintah  untuk menumbuhkan hutan kembali dan menghentikan kegiatan apa pun yang dapat menghancurkan hutan. Apalagi kegiatan mereka justru semakin meminggirkan kehidupan suku anak dalam (SAD) Bathin Sembilan yang tinggal di dalam hutan. Dengan demikian, kami akan lanjutkan penangkapan ini dengan proses hukum, sehingga semua  pelaku pembalakan dan pihak-pihak yang terlibat dapat segera diadili.”




PROFIL HUTAN HARAPAN (HARAPAN RAINFOREST

Hutan Harapan adalah eks kawasan pengusahaan Hutan Produksi yang kini sudah dialihkan kepada Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) untuk dikelola dan dipulihkan kembali  ekosistemnya (restorasi). Izin pengelolaan Hutan Harapan ini berdasarkan SK Menhut No 293/Menhut-II/2007:28 Agustus 2007 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 52.170 ha di Provinsi Sumatera Selatan. SK Menhut No 327/Menhut-II/2010 25 Mei 2010 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 46.385 ha di Provinsi Jambi.

Hutan Harapan dikelola secara non-profit, kegiatannya dibantu oleh lembaga donor dan dikelola sepenuhnya oleh warga Indonesia. Program restorasi Hutan Harapan ditujukan agar hutan yang terletak di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan ini bisa dikembalikan menjadi hutan alam seperti semula. Diharapkan, Hutan Harapan akan menjadi tempat di mana suku asli bisa hidup damai di dalamnya dan memanfaatkan hasil hutan non-kayu, sambil tetap menjaga dan mempertahankan ekosistem Hutan Harapan. Kehancuran Hutan Harapan berarti kehancuran kehidupan bagi penduduk asli yaitu, Suku Bathin Sembilan, yang secara turun temurun hidup berpindah dan mencari penghidupan di dalam hutan.

Hutan Harapan adalah hutan dataran rendah terakhir yang masih tersisa di Pulau Sumatera. Program restorasi Hutan Harapan merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dan juga yang pertama di Indonesia. Bila  restorasi Hutan Harapan berhasil, maka Hutan Harapan akan menjadi model positif yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan hutan alam di Indonesia dan dunia. Keberhasilan restorasi Hutan Harapan juga sedikit banyak akan memperbaiki citra Indonesia di mata internasional, yang saat ini reputasinya dikenal sebagai salah satu negeri dengan laju kehancuran hutan tercepat  di dunia.

* IUPHHK = Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu.


Tuesday, September 17, 2013

Buaya Senyulong Langka Ditemukan di Hutan Harapan



 
Melepas kembali buaya Senyulong ke habitatnya. Ini buaya langka yang baru pertama kali ditemukan di sungai di dalam kawasan Hutan Harapan. Keberadaan reptil langka ini semakin menunjukkan bahwa Hutan Harapan memang sangat perlu tetap dilestarikan dan dilindungi dari penghancuran sistematis oleh orang-orang serakah yang hanya mau mengeksploitasi lahan hutan,  
                     
Batanghari, Jambi - Hari Minggu, 1 September 2013, menjadi catatan penting bagi keberadaan hutan restorasi ekosistem Hutan Harapan. Seekor buaya besar berhasil ditemukan dan ditangkap oleh Solimin (40) warga suku anak dalam (SAD) setelah menggigit betis rekannya, seorang warga SAD lain,  bernama Nurdin (50) yang sedang mencari labi-labi di Sungai Bungin, di dalam lokasi Hutan Harapan yang berada di bagian wilayah Jambi.

Oleh Solimin, hasil tangkapannya itu kemudian dilaporkan ke petugas di Hutan Harapan. Temuan baru yang sangat istimewa ini kemudian diukur, ditimbang dan dicatat untuk keperluan penelitian. Panjang individu spesies ini  dari kepala sampai ekor adalah 2,25 m  dengan berat badan 35 kg, berjenis kelamin betina.  Diperkirakan buaya ini masih berumur remaja dan masih ada lagi buaya dewasa yang hidup bebas di dalam Sungai Bungin.    Setelah dilakukan pencatatan dan pengukuran serta pengambilan foto, buaya ini kemudian dilepaskan kembali ketempatnya semula ditemukan.

Sebelum ini, memang pernah ada  cerita dari beberapa orang warga  SAD di dalam Hutan Harapan  tentang keberadaan buaya Senyulong, seperti di Sungai Kapas, Sungai Lalan, Sungai Badak, Sungai Beruang, Sungai Penyerukan dan Sungai Bungin.  Namun, semua cerita itu belum ada yang dapat diverifikasi kebenarannya. 

Berdasarkan hasil pencatatan dan identifikasi, dapat dipastikan temuan ini adalah jenis buaya Senyulong Sumatra T. schlegelii yang sudah dianggap langka.

Buaya Senyulong atau dikenal juga dengan sebutan julong-julong (Tomistoma schlegelii) merupakan salah satu spesies dari 7 spesies buaya yang ada di Indonesia.  Spesies ini tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Perbedaan yang cukup kentara  dari jenis-jenis buaya lainnya adalah moncongnya yang relatif sempit (rahangnya menyempit secara gradual), pipih dan panjang, mirip buaya gavial yang ditemukan di sungai Gangga, India.  Karena bentuk moncongnya yang khas ini, kadang-kadang disebut juga buaya ikan.  Umumnya ditemukan di  sungai-sungai besar dan kecil, perairan rawa air tawar dan lahan basah dataran rendah.  Pada umur dewasa, spesies ini dapat mencapai panjang  hingga 3-4 meter.

Spesies buaya Senyulong ini dilindungi oleh undang-undang perlindungan fauna dan flora Indonesia, sedangkan secara internasional  sudah termasuk kategori genting (Endangered) yang terdaftar dalam daftar merah International Union and Conservation Nature (IUCN).

“Hingga saat ini, data dan status keberadaan populasi spesies buaya Senyulong ini masih sangat miskin,” kata Achmad Yanuar, PhD, kepala departemen Riset dan Pengembangan Hutan Harapan.  “Dikhawatirkan spesies ini semakin terancam keberadaannya karena habitatnya yang sudah semakin rusak. Ke depan, akan ada survei populasi buaya Senyulong di kawasan hutan Harapan untuk mengetahui status konservasinya.”




PROFIL HUTAN HARAPAN (HARAPAN RAINFOREST)

Hutan Harapan adalah eks kawasan pengusahaan Hutan Produksi yang kini sudah dialihkan kepada Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) untuk dikelola dan dipulihkan kembali  ekosistemnya (restorasi). Izin pengelolaan Hutan Harapan ini berdasarkan SK Menhut No 293/Menhut-II/2007:28 Agustus 2007 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 52.170 ha di Provinsi Sumatera Selatan. SK Menhut No 327/Menhut-II/2010 25 Mei 2010 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 46.385 ha di Provinsi Jambi.

Hutan Harapan dikelola secara non-profit, kegiatannya dibantu oleh lembaga donor dan dikelola sepenuhnya oleh warga Indonesia. Program restorasi Hutan Harapan ditujukan agar hutan yang terletak di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan ini bisa dikembalikan menjadi hutan alam seperti semula. Diharapkan, Hutan Harapan akan menjadi tempat di mana suku asli bisa hidup damai di dalamnya dan memanfaatkan hasil hutan non-kayu, sambil tetap menjaga dan mempertahankan ekosistem Hutan Harapan. Kehancuran Hutan Harapan berarti kehancuran kehidupan bagi penduduk asli yaitu, Suku Bathin Sembilan, yang secara turun temurun hidup berpindah dan mencari penghidupan di dalam hutan.

Hutan Harapan adalah hutan dataran rendah terakhir yang masih tersisa di Pulau Sumatera. Program restorasi Hutan Harapan merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dan juga yang pertama di Indonesia. Bila  restorasi Hutan Harapan berhasil, maka Hutan Harapan akan menjadi model positif yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan hutan alam di Indonesia dan dunia. Keberhasilan restorasi Hutan Harapan juga sedikit banyak akan memperbaiki citra Indonesia di mata internasional, yang saat ini reputasinya dikenal sebagai salah satu negeri dengan laju kehancuran hutan tercepat  di dunia.

Saturday, July 20, 2013

Hutan Harapan Kecam Perburuan Satwa Langka



Tapir langka yang dijerat pemburu liar dan kemudian mati mengenaskan. Para pemburu ini biasanya memasang jerat untuk menangkap harimau yang punya daya jual tinggi, tapi kadang yang masuk perangkap mereka justru hewan lain yang juga dilindungi tapi tidak bernilai komersial di pasar gelap. (FOTO: RISET REKI)   

Batanghari, Jambi – Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) selaku pengelola  Hutan Harapan mengecam keras ulah segelintir orang yang terus melakukan perburuan satwa langka di dalam kawasan hutan restorasi ekosistem. Satwa terakhir yang menjadi korban jerat pemburu gelap adalah seekor tapir (tapirus indicus), yang ditemukan oleh tim Riset Hutan Harapan tapi kemudian tidak dapat diselamatkan karena kondisi tubuhnya sudah terlalu lemah.

Anggota staf Riset Hutan Harapan menemukan tapir tersebut saat sedang melakukan pengecekan camera trap di dalam kawasan hutan yang mendekati wilayah Kabupaten Sarolangun pada 24 Juni 2013.  Tapir tersebut ditemukan dalam keadaan kaki kanan depannya terjerat tali sling (kabel baja) dan sedang berjuang melepaskan diri dari jerat. Jerat diyakini dipasang pemburu gelap yang bermaksud menangkap Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae). Model jerat ini didesain secara khusus di mana hewan yang masuk jerat akan sulit melepaskan diri bahkan bisa berakibat kematian.

Tim Riset berusaha keras membantu melepaskan kawat baja dari kaki tapir tersebut. Tapir muda berjenis kelamin betina dengan berat sekitar 150 kg kemudian hanya bisa terbaring sekarat karena mengalami luka cukup parah pada bagian kaki depan. Karena kondisi lukanya, tapir tersebut kemudian menemui ajal di lokasi. Seluruh bukti dan fakta lapangan kemudian disimpan tim Riset Hutan Harapan untuk tindak lanjut dan pelaporan.

Jerat harimau terbuat dari tali baja  yang dipasang pemburu gelap.

“Kami sangat menyesalkan peristiwa ini dan mengecam keras aktifitas perburuan satwa di dalam kawasan hutan,” kata manajer Public Relations Hutan Harapan, Surya Kusuma. “Kami mengimbau agar masyarakat tidak saja turut serta menjaga kelangsungan hutan, tapi juga ekosistem yang ada di dalamnya, termasuk banyak satwa langka Sumatra yang kini sudah terancam punah.”

Populasi tapir Sumatra cenderung menuju kondisi terancam punah. Manusia menjadi faktor utama ancaman bagi kehidupan  tapir, antara lain karena kegiatan perburuan liar, perambahan dan illegal logging yang menghabisi hutan, hingga perdagangan satwa ilegal.

“Ke depan, kami akan semakin meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah jatuhnya lagi korban hewan  yang dilindungi mati sia-sia akibat jerat pemburu gelap. Kami juga mempersilakan masyarakat untuk melaporkan temuan yang mencurigakan atau melaporkan aktifitas  orang-orang tertentu terkait perburuan satwa yang dilakukan di dalam hutan,” kata Surya Kusuma.
  


PROFIL HUTAN HARAPAN (HARAPAN RAINFOREST)

Hutan Harapan adalah eks kawasan pengusahaan Hutan Produksi yang kini sudah dialihkan kepada Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) untuk dikelola dan dipulihkan kembali  ekosistemnya (restorasi). Izin pengelolaan Hutan Harapan ini berdasarkan SK Menhut No 293/Menhut-II/2007:28 Agustus 2007 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 52.170 ha di Provinsi Sumatera Selatan. SK Menhut No 327/Menhut-II/2010 25 Mei 2010 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 46.385 ha di Provinsi Jambi.

Hutan Harapan dikelola secara non-profit, kegiatannya dibantu oleh lembaga donor dan dikelola sepenuhnya oleh warga Indonesia. Program restorasi Hutan Harapan ditujukan agar hutan yang terletak di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan ini bisa dikembalikan menjadi hutan alam seperti semula. Diharapkan, Hutan Harapan akan menjadi tempat di mana suku asli bisa hidup damai di dalamnya dan memanfaatkan hasil hutan non-kayu, sambil tetap menjaga dan mempertahankan ekosistem Hutan Harapan. Kehancuran Hutan Harapan berarti kehancuran kehidupan bagi penduduk asli yaitu, Suku Bathin Sembilan, yang secara turun temurun hidup berpindah dan mencari penghidupan di dalam hutan.

Hutan Harapan adalah hutan dataran rendah terakhir yang masih tersisa di Pulau Sumatera. Program restorasi Hutan Harapan merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dan juga yang pertama di Indonesia. Bila  restorasi Hutan Harapan berhasil, maka Hutan Harapan akan menjadi model positif yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan hutan alam di Indonesia dan dunia. Keberhasilan restorasi Hutan Harapan juga sedikit banyak akan memperbaiki citra Indonesia di mata internasional, yang saat ini reputasinya dikenal sebagai salah satu negeri dengan laju kehancuran hutan tercepat  di dunia.



Friday, May 31, 2013

Restorasi Hutan Harapan Terancam Jalan Angkut Batubara

Peta rencana jalan lalu lintas  truk  angkut batubara setiap hari melalui Hutan Harapan dari wilayah Sumatera Selatan hingga Jambi. Garis merah adalah rencana jalur pembukaan jalan untuk angkutan batubara PT MMJ. Bisa dipastikan, dampak dari pembukaan jalan untuk aktivitas pertambangan batubara ini akan semakin menghancurkan upaya pemulihan hutan terdegradasi yang sedang dilakukan Hutan Harapan. 


Jambi, Kompas - Restorasi ekosistem Hutan Harapan di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan terancam oleh rencana pembangunan jalan angkut batubara oleh salah satu anak usaha perusahaan terbuka di Jambi. Pemegang konsesi kawasan tersebut menolak rencana pembangunan jalan tersebut. Alasannya untuk menjamin kelestarian ekosistem dataran rendah Sumatera tersebut.

”Kami dua kali menyampaikan surat penolakan atas rencana pembangunan jalan itu kepada Kementerian Kehutanan. Namun, hingga kini belum ada tanggapan,” ujar Urip Wiharjo, Kepala Divisi Perlindungan Hutan PT Restorasi Ekosistem selaku pengelola Hutan Harapan, Minggu (26/5).

Surat tersebut menolak rencana pembangunan jalan angkut batubara sepanjang 48 kilometer di kawasan itu. Alasannya, pembukaan hutan restorasi mengancam ekosistem seluas 98.000 hektar. Apalagi, jalur jalan yang bakal dibuka merupakan kawasan inti dengan tutupan vegetasi untuk ruang jelajah 26 jenis satwa langka, seperti harimau sumatera, gajah sumatera, dan burung rangkong.

Menurut Urip, pembangunan prasarana untuk kepentingan pertambangan di kawasan terebut melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2013 tentang Perubahan Aturan atas Pedoman Pinjam Pakai Hutan. Sebab, berdasarkan Pasal 10B kawasan hutan produksi yang memiliki izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu restorasi ekosistem di hutan alam tidak dapat diberikan izin untuk tambang.

Surya Kusuma dari bagian Humas PT Restorasi Ekosistem mengatakan, upaya pemulihan Hutan Harapan akan terganggu jika jalan dibuka. ”Minimal 154 hektar vegetasi hutan bakal hancur kalau kawasan itu dilalui jalan. Ini berarti merusak jalur jelajah satwa,” ujarnya.

Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Batanghari Suhabli mengatakan, izin pinjam pakai hutan untuk pembangunan jalan tambang menjadi otoritas Kementerian Kehutanan. Untuk mengecek kelayakan lokasi pembangunan jalan, pihaknya mengirim tim ke lokasi.

Jalan ditutup

Sementara itu, untuk mencegah rusaknya infrastruktur jalan ke Pelabuhan Bagendang, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang berencana menutup jalan tersebut. Rencana itu akan direalisasikan jika truk-truk dengan muatan berlebihan masih melintasi jalan menuju pelabuhan.

Sesuai pantauannya, beban truk-truk ke Bagendang minimal 11 ton. Padahal, jalan hanya mampu menahan beban delapan ton. Setiap hari tercatat ada 580 angkutan truk menuju pelabuhan. Jika dihitung bolak-balik, jalan itu setiap hari dilalui truk sebanyak 1.160 kali. 

Sumber:  Kompas, Senin, 27 Mei 2013