Monday, August 11, 2014

Kemenhut Kerahkan Gajah Hancurkan Sawit Perambah di Tesso Nilo




Gajah jantan bernama Hendro, Selasa (5 Agustus), dikerahkan untuk membersihkan tanaman
kelapa sawit di areal Taman Nasional Tesso Nilo di Riau. Kawasan konservasi seluas 80.000
hektar itu, 50.000 hektar di antaranya dirambah untuk perkebunan kelapa sawit. Sekitar 200
 hektar sudah dibebaskan dan siap direhabilitasi. (FOTO: Kompas/Ichwan Susanto).


Rehabilitasi Lahan
200 Hektar Hutan Tesso Nilo Menjadi Prioritas

Indragiri Hulu, Kompas, 6 Agustus 2014 – Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan meminta agar  200 hektar bekas lahan perkebunan kelapa sawit di Taman Nasional Tesso Nilo direhabilitasi. Prosesnya diwajibkan melibatkan masyarakat setempat.

“Ada dana Rp5 juta per hektar untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan. Bisa untuk Tesso Nilo ini,” kata Zulkifli, Selasa (5/8), saat meninjau lokasi pembersihan Taman Nasional (TN) Tesso Nilo di Indragiri Hulu, Riau, dari perkebunan sawit.

Pada Mei 2014, Kementerian Kehutanan mulai membersihkan 200 hektar dari 50.000 hektar perkebunan sawit di TN Tesso Nilo yang hanya seluas 80.000 hektar. Di lahan kawasan hutan negara itu bisa terbit sertifikat hak milik.

Zulkifli bersama rombongan menggunakan dua helikopter menuju lokasi pembersihan. Selasa pagi, gajah-gajah terdidik (tim Flying Squad) membersihkan lahan dari kelapa sawit. Empat gajah melahap dedaunan sawit dan menarik dahannya hingga bagian umbut.

Seusai pembersihan, Balai TN Tesso Nilo akan mengajak masyarakat merehabilitasi lahan bekas perkebunan sawit. Rehabilitasi menggunakan tanaman-tanaman berkayu yang hasilnya bisa dimanfaatkan masyarakat.

Menurut Zulkifli, perambahan di TN Tesso Nilo kompleks. Di tempat itu, 10.000-15.000 keluarga memanfaatkan lahan untuk kelapa sawit. Perambahan lahan memberi tekanan besar bagi ekosistem dan ekologi hutan, seperti gangguan fungsi hidrologis serta lalu lintas gajah dan harimau.

Kerusakan masif di TN Tesso Nilo juga disorot dunia. Tahun lalu, aktor kawakan Harrison Ford membuat film dokumenter Years of Living Dangerously. Dalam film itu, pemerintah Indonesia digambarkan melakukan pembiaran sehingga hutan konservasi itu rusak. Ford juga tampak marah kepada Zulkifli yang dinilainya tidak serius.

Tandya TJ, Kepala Balai TN Tesso Nilo, mengatakan, penanganan para perambah tak bisa dilakukan frontal karena akan mengundang konflik aparat dengan warga. Pihaknya mengutamakan komunikasi dan kerja sama dengan polisi dan pemda dengan perlahan-lahan mengembalikan kawasan hutan konservasi.


TN Tesso Nilo diresmikan pada 19 Juli 2004. Hutan konservasi ini menjadi tempat hidup 360 jenis flora, 23 jenis mamalia, 3 jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia, dan 18 jenis amfibi. Tesso Nilo juga merupakan salah satu sisa hutan dataran rendah, tempat tinggal bagi 60-80 ekor gajah dan harimau. (ICH/HAM)

Monday, May 26, 2014

Kebun (Sawit) Ilegal Dimusnahkan: Kemenhut Dorong Bisnis Restorasi Ekosistem

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan saat mengunjungi suku anak dalam (SAD) Batin Sembilan
 dan  meninjau lokasi hutan yang dijarah para pendatang di dalam kawasan hutan
 restorasi ekosistem Hutan Harapan, Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan.

Pelalawan, Kompas – Kebun sawit ilegal seluas 200 hektar di Taman Nasional Tesso Nilo di Kabupaten Pelalawan, Riau, dimusnahkan. Saat ini, dari 80.000 hektar areal taman nasional itu, sekitar 50.000 hektar di antaranya berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.

Pemusnahan dilakukan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan secara simbolis, Kamis (22/5).

“Bagaimana bisa ada kebun di dalam taman nasional sampai punya sertifikat. Kami bersama TNI dan Polri sepakat menindak mereka yang dimulai dari perkebunan ratusan hektar,” kata Zulkifli.

Kegiatan ilegal itu terus berjalan karena ada sejumlah pabrik kelapa sawit milik dua grup perkebunan besar menampung tandan buah segar kelapa sawit.

Kemenhut mengelola Taman Nasional Tesso Nilo bersama organisasi nonpemerintah lingkungan internasional, World Wildlife Fund.

Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Sonny Partono menambahkan, sudah ada 100 tersangka yang diusut sebagai perambah hutan dan pembakar lahan. “Perambah hutan dan penadah hasil hutan ilegal, termasuk pabrik kelapa sawit, akan kami tindak tegas,” ujar Sonny.

Restorasi Ekosistem

Kemarin, Zulkifli menanam pohon di areal Restorasi Ekosistem Riau (RER) PT Gemilang Cipta Nusantara di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Semenanjung Kampar, Riau.

Produsen bubur kertas terbesar kedua di Asia, Asia Pacific Resources International Limited, menginvestasikan 17 juta dollar AS atau sekitar Rp192 miliar dalam 10 tahun untuk mengembangkan RER seluas 20.265 hektar.

Investasi restorasi ekosistem bertujuan memperbaiki fungsi kawasan hutan sehingga menghasilkan manfaat nonkayu, seperti air, madu, dan ekowisata.  Kementerian Kehutanan mendorong dunia usaha dan organisasi nonpemerintah bidang lingkungan berkolaborasi mengembangkan bisnis restorasi ekosistem demi mempercepat pemulihan kawasan hutan.

Ketua Komite Manajemen RER Kusnan Rahmin mengungkapkan, manajemen RER tengah mendata keanekaragaman hayati untuk menanami  hutan gambut dengan tanaman asli sekaligus melestarikan satwa liar.

Kawasan hutan gambut –yang dilihat Zulkifli dari udara—itu dalam kondisi rusak akibat perambahan liar. (SAH/HAM)


Sumber: Kompas, Jumat, 23 Mei 2014.

Sunday, February 23, 2014

An Unforgettable Trip to Harapan Rainforest





Tree climbing session deep inside Hutan Harapan. Enjoying forest canopies view  from above the tall tree.

By Stephanie Morren

I, Stephanie (with my husband Liam),  recently had the very great privilege of spending 3 days in the beautiful Harapan rainforest in Jambi and South Sumatra provinces, Sumatra, Indonesia. I have known about this project run by RSPB, Burung Indonesia and BirdLife International for many years. So when I had the opportunity to visit I jumped at the chance!

The journey to base camp from Jambi is around 3 hours along a very muddy and bumpy road. Most of this journey is through palm oil plantations which just seem to go on forever. So it was difficult to imagine what Harapan would be like. Even once we went through the gate into the forest, the rows of palm trees were still there, visible in every direction. We did gradually start to see some native forest, with tall trees and a variety of flora. We also saw a troupe of long-tailed macaques crossing the road in front of us!
Indigenous kids of Bathin IX of Hutan Harapan's school

Base camp was really impressive and there were lots of friendly people working there. After settling in to our room (with the unexpected luxury of air conditioning!) we headed out into the forest for the first time. Although this forest has been heavily exploited in the past, it was teeming with life. Birds, insects and monkeys all moving about through the trees, and the wonderful and distinctive sounds of the rainforest filled the air. As we watched various macaques, leaf monkeys, wild pigs, flying squirrels, hornbills and hawk-eagles it was easy to forget how small and vulnerable this forest really is.


Over the three days we spent a lot of time in the forest – trekking through the forest trails and taking in all the sights and sounds. Avoiding the leeches was a daily activity too! A real highlight was the climb up to the treetop platform which gave us a 360° view of the forest. As we were so deep into the forest, there was no palm oil or anything else in sight. Purely forest and it was beautiful. Another highlight was finding tracks of animals such as sun bears, tapirs and Sumatran tigers. It was amazing to think that they had passed through that very spot not long before us. During a night walk we came across a banded palm civet, which are classed as internationally vulnerable as they have declined due to habitat loss. To see any nocturnal mammal is a real treat.

Adventure inside the last tropical dry lowland rainforest in
Jambi & South Sumatra provinces, Indonesia.

We also had the pleasure of visiting the local school for the indigenous people, where we told the children about our home in England, and taught them a well-known nursery rhyme. It was fantastic to see them enjoying school and they will be the first generation of their people to go through a school education. When we asked them what they wanted to do when they grew up, answers included teacher, policeman and doctor.


There are challenges facing the team at Hutan Harapan, from deforestation because of encroachment to tiger poaching activities. And there is no doubt that this project and the future of lowland rainforest in Sumatra hangs in the balance. However, it is rare to meet such a dedicated bunch of people and if any project is going to succeed I believe it can be this one. For the sake of the climate, the people and the wildlife, let’s hope that they manage to save it, and this wonderful place continues to get better and better.

Wednesday, November 27, 2013

Ditangkap, 4 Truk Pembalak Kayu Hutan Harapan

Empat truk berhasil ditangkap berikut barang bukti 20 kubik kayu hasil pembalakan (illegal logging) dari dalam kawasan hutan restorasi Hutan Harapan di bagian Sumatera Selatan. Hanya seorang pelaku yang berhasil ditangkap, sedangkan yang lain melarikan diri dan meninggalkan truk-truk berikut barang bukti. 



Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, 13 November 2013 –  Polisi Hutan dari Dinas Kehutanan Musi Banyuasin (Muba) dan petugas patroli perlindungan Hutan Harapan berhasil memburu dan menangkap 4 unit truk bermuatan 20 kubik kayu hasil pembalakan (illegal logging) dari dalam kawasan Hutan Harapan pada Selasa  (12/11). Seorang pelaku yang mengemudikan salah satu truk berhasil diamankan, sementara para pelaku lainnya melarikan diri dan meninggalkan truk-truk dalam keadaan terkunci.  Pengemudi yang ditangkap langsung dibawa ke kantor Dinas Kehutanan Muba di Betung. Total dalam  sepekan ini, sudah ada 6 truk berikut para tersangka pembalak ditangkap berturut-turut di jalan saat hendak melarikan kayu keluar kawasan hutan. 

Jumlah tangkapan diperkirakan akan terus bertambah dalam beberapa pekan ke depan, seiring  gencarnya operasi perburuan terhadap para pembalak liar.

“Perburuan aktif terhadap para pembalak liar ini  tidak hanya melibatkan patroli perlindungan Hutan Harapan dan Dishut Muba, tapi juga tim intel Kodam Sumsel,” kata M. Nazli, kepala Departemen Perlindungan Hutan Harapan. “Hal ini menunjukkan betapa seriusnya semua pihak membantu mengamankan kawasan  Hutan Harapan dari kejahatan pembalakan liar yang sangat merugikan negara. Mulai sekarang, tidak ada lagi ampun bagi para pelaku pembalakan maupun para cukong dan pendukungnya yang terlibat di lapangan selama ini. Aparat keamanan sudah punya bukti nama-nama yang selama ini terlibat aktif dalam bisnis kayu ilegal yang sangat merusak lingkungan ini.”

Menurut Nazli, keempat unit truk sudah dipantau sejak keluar dari  desa Sako Suban,  lokasi yang menjadi area keluar masuk semua truk pengangkut kayu hasil pembalakan.  Truk-truk tersebut keluar menuju jalan umum dengan dikawal 1 unit kijang kapsul yang dikawal oleh seorang oknum aparat. Begitu tahu dibuntuti, oknum tersebut mengajak negosiasi dan mencoba menyuap tim gabungan, tapi ditolak mentah-mentah. Tim gabungan meminta agar semua truk dan barang bukti dibawa ke Pos Satgas Polhut di Betung.

“Tahu kalau negosiasi ditolak, semua truk tiba-tiba berbalik arah untuk melarikan diri kembali ke desa Sako Suban. Tim melakukan pengejaran dan berhasil mencegat mereka di jalan, tetapi semuanya lari meninggalkan truk dalam keadaan terkunci dan hanya satu pelaku yang tertangkap,” kata Nazli.

Sebelumnya, pada 8 November 2013, tim gabungan Dishut Muba dan tim patroli perlindungan hutan juga berhasil menangkap 2  unit truk berisi 5 kubik kayu bulian dan 4  pelaku terkait pembalakan liar dari dalam Hutan Harapan.

Hasil operasi terakhir ini sekaligus membuktikan bahwa kerja sama  antara institusi pemerintah, aparat keamanan dan patroli perlindungan Hutan Harapan mampu menghentikan  aksi para pelaku kejahatan kehutanan. Hal ini juga juga menunjukkan  bahwa PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) selaku pengelola hutan restorasi Hutan Harapan pantang surut menghadapi para pembalak  liar yang terus membandel.




PROFIL HUTAN HARAPAN (HARAPAN RAINFOREST

Hutan Harapan adalah eks kawasan pengusahaan Hutan Produksi yang kini sudah dialihkan kepada Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) untuk dikelola dan dipulihkan kembali  ekosistemnya (restorasi). Izin pengelolaan Hutan Harapan ini berdasarkan SK Menhut No 293/Menhut-II/2007:28 Agustus 2007 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 52.170 ha di Provinsi Sumatera Selatan. SK Menhut No 327/Menhut-II/2010 25 Mei 2010 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 46.385 ha di Provinsi Jambi.

Hutan Harapan dikelola secara non-profit, kegiatannya dibantu oleh lembaga donor dan dikelola sepenuhnya oleh warga Indonesia. Program restorasi Hutan Harapan ditujukan agar hutan yang terletak di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan ini bisa dikembalikan menjadi hutan alam seperti semula. Diharapkan, Hutan Harapan akan menjadi tempat di mana suku asli bisa hidup damai di dalamnya dan memanfaatkan hasil hutan non-kayu, sambil tetap menjaga dan mempertahankan ekosistem Hutan Harapan. Kehancuran Hutan Harapan berarti kehancuran kehidupan bagi penduduk asli yaitu, Suku Bathin Sembilan, yang secara turun temurun hidup berpindah dan mencari penghidupan di dalam hutan.

Hutan Harapan adalah hutan dataran rendah terakhir yang masih tersisa di Pulau Sumatera. Program restorasi Hutan Harapan merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dan juga yang pertama di Indonesia. Bila  restorasi Hutan Harapan berhasil, maka Hutan Harapan akan menjadi model positif yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan hutan alam di Indonesia dan dunia. Keberhasilan restorasi Hutan Harapan juga sedikit banyak akan memperbaiki citra Indonesia di mata internasional, yang saat ini reputasinya dikenal sebagai salah satu negeri dengan laju kehancuran hutan tercepat  di dunia.

* IUPHHK = Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu.


Sunday, November 10, 2013

Tim Gabungan Tangkap 2 (Dua) Unit Truk Illegal Loging di Musi Banyuasin

3 dari 4 tersangka pengangkut kayu bulian hasil illegal logging dari dalam kawasan Hutan Harapan, berikut barang bukti  berupa 2 unit  truk dan 5 kubik kayu bulian.


Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Tim Polisi Hutan Kabupaten Musi Banyuasin dengan dibantu tim patroli perlindungan hutan berhasil menangkap truk pengangkut kayu bulian hasil pembalakan (illegal logging) dari dalam kawasan hutan restorasi ekosistem Hutan Harapan (8 November). Kayu bulian ini merupakan hasil tebangan ilegal dari dalam kawasan Hutan Harapan yang berada di bagian Provinsi Sumatera Selatan.

Pada 18.30 Wib, dua unit truk pengangkut kayu hasil curian ini memasuki jalan Simpang Gas. Jalan ini rutin digunakan para pembalak untuk mengangkut kayu hasil pembalakan dari dalam Hutan Harapan. Tim gabungan Polisi Hutan Musi Banyuasin dan tim patroli Hutan Harapan langsung memberhentikan truk dan para operator di dalamnya yang berjumlah 4 orang.

Saat diberhentikan, satu truk berhasil lolos dan tim gabungan melakukan pengejaran.  Kejar-kejaran selesai setelah truk ini  berhenti dan  ditangkap di Desa Peninggalan.
Total hasil operasi illegal logging: 2 (dua) unit truk PS, 5 kubik kayu bulian dan 4 orang tersangka. Tersangka dan barang bukti kemudian dibawa menuju kantor Polisi Hutan Musi Banyuasin di Betung.


Ditangkap, Truk dan Pembalak Kayu Bulian Hutan Harapan

Temuan kayu bulian langka yang sudah diolah untuk digunakan fungsi lain atau diangkut keluar hutan  oleh kawanan perambah dari area Kunangan Jaya II. 

Batanghari, Jambi – Seorang pelaku utama yang membawa kayu hasil pembalakan (illegal logging) ditangkap dan satu unit truk berikut barang bukti 5 kubik kayu bulian langka hasil curian dari dalam Hutan Harapan berhasil disita. Pelaku tersebut ditangkap petugas Polres Batanghari dan dibantu oleh masyarakat saat mengangkut kayu hasil tebangan  (6/11). Sementara, pengawal truk yang berboncengan dengan 12 motor langsung melarikan diri. Saat ini,  pelaku sedang menjalani penyidikan di kantor Polres Batanghari, Muara Bulian. Barang bukti  berupa 1 unit truk dan muatan kayu bulian olahan  juga sudah diamankan di kantor Polres Batanghari.

Manajemen REKI selaku pengelola hutan restorasi ekosistem Hutan Harapan sangat berterima kasih atas bantuan dan kerja sama yang telah diberikan  warga masyarakat sekitar hutan. Manajemen REKI juga berterima kasih atas peran Polres Batanghari yang segera menindaklanjuti tangkapan itu dengan mengamankan pelaku serta barang bukti.

“Penangkapan ini merupakan buah dari kerja sama sinergis selama ini antara pihak kepolisian,  warga di sekitar konsesi restorasi ekosistem dan manajemen Hutan Harapan,” kata M. Nazli, Kepala Departemen Perlindungan Hutan Harapan. “Kami sudah lama mengamati aktivitas perambahan yang diiringi pembalakan di dalam Hutan Harapan. Celakanya, aparat pemerintah dusun di kawasan perambah juga terbukti terlibat dengan mengeluarkan surat ijin penebangan kayu. Para pembalak ini memang tidak pernah berhenti menebangi pohon. Kegiatan melanggar hukum di dalam area yang akan kami pulihkan jadi hutan alam kembali ini tentu harus kami hentikan.”

Sebelumnya, pada Minggu, 3 November 2013, petugas perlindungan Hutan Harapan memergoki warga perambah dari dusun Kunangan Jaya II yang selama ini diketahui telah mencaplok ratusan hektar lahan hutan di area Sungai Kandang. Mereka terpantau sedang menebang pohon dan mengolah kayu bulian hasil tebangan ilegal. Di lokasi juga ditemukan barang bukti berupa tumpukan kayu bulian yang sudah diolah menjadi berbagai ukuran. Para pelaku menantang dan sekaligus menunjukkan selembar surat ijin dari kepala dusun Kunangan Jaya II atas nama: M. Khasan Nandif. Di dalam surat itu  tertera persetujuan dari beberapa ketua RT setempat. Bukti itu menunjukkan bagaimana aparat dusun dan jajarannya terlibat aktif dengan melegalkan kegiatan pembalakan di dalam hutan restorasi.

“Apa yang mereka lakukan ini sama saja dengan merusak program Kementerian Kehutanan yang sudah mencanangkan  program mulia untuk masa depan,  yakni penanaman satu miliar pohon,” kata Surya Kusuma, PR & Communication Manager Hutan Harapan. “Kami mendukung penuh upaya pemerintah  untuk menumbuhkan hutan kembali dan menghentikan kegiatan apa pun yang dapat menghancurkan hutan. Apalagi kegiatan mereka justru semakin meminggirkan kehidupan suku anak dalam (SAD) Bathin Sembilan yang tinggal di dalam hutan. Dengan demikian, kami akan lanjutkan penangkapan ini dengan proses hukum, sehingga semua  pelaku pembalakan dan pihak-pihak yang terlibat dapat segera diadili.”




PROFIL HUTAN HARAPAN (HARAPAN RAINFOREST

Hutan Harapan adalah eks kawasan pengusahaan Hutan Produksi yang kini sudah dialihkan kepada Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) untuk dikelola dan dipulihkan kembali  ekosistemnya (restorasi). Izin pengelolaan Hutan Harapan ini berdasarkan SK Menhut No 293/Menhut-II/2007:28 Agustus 2007 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 52.170 ha di Provinsi Sumatera Selatan. SK Menhut No 327/Menhut-II/2010 25 Mei 2010 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 46.385 ha di Provinsi Jambi.

Hutan Harapan dikelola secara non-profit, kegiatannya dibantu oleh lembaga donor dan dikelola sepenuhnya oleh warga Indonesia. Program restorasi Hutan Harapan ditujukan agar hutan yang terletak di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan ini bisa dikembalikan menjadi hutan alam seperti semula. Diharapkan, Hutan Harapan akan menjadi tempat di mana suku asli bisa hidup damai di dalamnya dan memanfaatkan hasil hutan non-kayu, sambil tetap menjaga dan mempertahankan ekosistem Hutan Harapan. Kehancuran Hutan Harapan berarti kehancuran kehidupan bagi penduduk asli yaitu, Suku Bathin Sembilan, yang secara turun temurun hidup berpindah dan mencari penghidupan di dalam hutan.

Hutan Harapan adalah hutan dataran rendah terakhir yang masih tersisa di Pulau Sumatera. Program restorasi Hutan Harapan merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dan juga yang pertama di Indonesia. Bila  restorasi Hutan Harapan berhasil, maka Hutan Harapan akan menjadi model positif yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan hutan alam di Indonesia dan dunia. Keberhasilan restorasi Hutan Harapan juga sedikit banyak akan memperbaiki citra Indonesia di mata internasional, yang saat ini reputasinya dikenal sebagai salah satu negeri dengan laju kehancuran hutan tercepat  di dunia.

* IUPHHK = Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu.


Tuesday, September 17, 2013

Buaya Senyulong Langka Ditemukan di Hutan Harapan



 
Melepas kembali buaya Senyulong ke habitatnya. Ini buaya langka yang baru pertama kali ditemukan di sungai di dalam kawasan Hutan Harapan. Keberadaan reptil langka ini semakin menunjukkan bahwa Hutan Harapan memang sangat perlu tetap dilestarikan dan dilindungi dari penghancuran sistematis oleh orang-orang serakah yang hanya mau mengeksploitasi lahan hutan,  
                     
Batanghari, Jambi - Hari Minggu, 1 September 2013, menjadi catatan penting bagi keberadaan hutan restorasi ekosistem Hutan Harapan. Seekor buaya besar berhasil ditemukan dan ditangkap oleh Solimin (40) warga suku anak dalam (SAD) setelah menggigit betis rekannya, seorang warga SAD lain,  bernama Nurdin (50) yang sedang mencari labi-labi di Sungai Bungin, di dalam lokasi Hutan Harapan yang berada di bagian wilayah Jambi.

Oleh Solimin, hasil tangkapannya itu kemudian dilaporkan ke petugas di Hutan Harapan. Temuan baru yang sangat istimewa ini kemudian diukur, ditimbang dan dicatat untuk keperluan penelitian. Panjang individu spesies ini  dari kepala sampai ekor adalah 2,25 m  dengan berat badan 35 kg, berjenis kelamin betina.  Diperkirakan buaya ini masih berumur remaja dan masih ada lagi buaya dewasa yang hidup bebas di dalam Sungai Bungin.    Setelah dilakukan pencatatan dan pengukuran serta pengambilan foto, buaya ini kemudian dilepaskan kembali ketempatnya semula ditemukan.

Sebelum ini, memang pernah ada  cerita dari beberapa orang warga  SAD di dalam Hutan Harapan  tentang keberadaan buaya Senyulong, seperti di Sungai Kapas, Sungai Lalan, Sungai Badak, Sungai Beruang, Sungai Penyerukan dan Sungai Bungin.  Namun, semua cerita itu belum ada yang dapat diverifikasi kebenarannya. 

Berdasarkan hasil pencatatan dan identifikasi, dapat dipastikan temuan ini adalah jenis buaya Senyulong Sumatra T. schlegelii yang sudah dianggap langka.

Buaya Senyulong atau dikenal juga dengan sebutan julong-julong (Tomistoma schlegelii) merupakan salah satu spesies dari 7 spesies buaya yang ada di Indonesia.  Spesies ini tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Perbedaan yang cukup kentara  dari jenis-jenis buaya lainnya adalah moncongnya yang relatif sempit (rahangnya menyempit secara gradual), pipih dan panjang, mirip buaya gavial yang ditemukan di sungai Gangga, India.  Karena bentuk moncongnya yang khas ini, kadang-kadang disebut juga buaya ikan.  Umumnya ditemukan di  sungai-sungai besar dan kecil, perairan rawa air tawar dan lahan basah dataran rendah.  Pada umur dewasa, spesies ini dapat mencapai panjang  hingga 3-4 meter.

Spesies buaya Senyulong ini dilindungi oleh undang-undang perlindungan fauna dan flora Indonesia, sedangkan secara internasional  sudah termasuk kategori genting (Endangered) yang terdaftar dalam daftar merah International Union and Conservation Nature (IUCN).

“Hingga saat ini, data dan status keberadaan populasi spesies buaya Senyulong ini masih sangat miskin,” kata Achmad Yanuar, PhD, kepala departemen Riset dan Pengembangan Hutan Harapan.  “Dikhawatirkan spesies ini semakin terancam keberadaannya karena habitatnya yang sudah semakin rusak. Ke depan, akan ada survei populasi buaya Senyulong di kawasan hutan Harapan untuk mengetahui status konservasinya.”




PROFIL HUTAN HARAPAN (HARAPAN RAINFOREST)

Hutan Harapan adalah eks kawasan pengusahaan Hutan Produksi yang kini sudah dialihkan kepada Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) untuk dikelola dan dipulihkan kembali  ekosistemnya (restorasi). Izin pengelolaan Hutan Harapan ini berdasarkan SK Menhut No 293/Menhut-II/2007:28 Agustus 2007 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 52.170 ha di Provinsi Sumatera Selatan. SK Menhut No 327/Menhut-II/2010 25 Mei 2010 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 46.385 ha di Provinsi Jambi.

Hutan Harapan dikelola secara non-profit, kegiatannya dibantu oleh lembaga donor dan dikelola sepenuhnya oleh warga Indonesia. Program restorasi Hutan Harapan ditujukan agar hutan yang terletak di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan ini bisa dikembalikan menjadi hutan alam seperti semula. Diharapkan, Hutan Harapan akan menjadi tempat di mana suku asli bisa hidup damai di dalamnya dan memanfaatkan hasil hutan non-kayu, sambil tetap menjaga dan mempertahankan ekosistem Hutan Harapan. Kehancuran Hutan Harapan berarti kehancuran kehidupan bagi penduduk asli yaitu, Suku Bathin Sembilan, yang secara turun temurun hidup berpindah dan mencari penghidupan di dalam hutan.

Hutan Harapan adalah hutan dataran rendah terakhir yang masih tersisa di Pulau Sumatera. Program restorasi Hutan Harapan merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dan juga yang pertama di Indonesia. Bila  restorasi Hutan Harapan berhasil, maka Hutan Harapan akan menjadi model positif yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan hutan alam di Indonesia dan dunia. Keberhasilan restorasi Hutan Harapan juga sedikit banyak akan memperbaiki citra Indonesia di mata internasional, yang saat ini reputasinya dikenal sebagai salah satu negeri dengan laju kehancuran hutan tercepat  di dunia.